
Dungkek, manasymut.sch.id – MA Nasy-atul Muta’allimin Candi, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi siswa melalui kegiatan bertajuk Ngobrol Kepenulisan yang dilaksanakan pada Ahad, 8 Februari 2026 pukul 09.00 WIB. Kegiatan yang bertempat di Aula MA Nasy-atul Muta’allimin ini menghadirkan Komunitas Damar Korong sebagai narasumber dan diikuti oleh seluruh siswa madrasah dengan penuh antusias.
Kegiatan literasi tersebut menghadirkan lima pemateri dari Komunitas Damar Korong dengan materi yang beragam, yakni Faidi Rizal Alief yang membahas kepenulisan puisi, Matroni Muserang yang mengisi materi penulisan esai sastra, Helmi yang menyampaikan teknik menulis cerpen, serta Laila Nur Diana yang menjelaskan proses kreatif dalam berkarya. Acara ini dimoderatori oleh Andi Najmi, mahasiswa Universitas PGRI Sumenep yang sedang melaksanakan program PPL di MA Nasy-atul Muta’allimin.

Dalam sesi penyampaian materi, Faidi Rizal Alief memberikan sejumlah nasehat penting bagi siswa yang ingin mulai menulis puisi. Ia menekankan bahwa kebiasaan membaca merupakan kunci utama bagi seorang penulis. “Penulis puisi harus banyak membaca. Kalau ingin menulis puisi yang baik, maka terlebih dahulu harus menjadi pembaca yang baik,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga menegaskan bahwa untuk menjadi penulis tidak perlu menunggu menguasai teori secara mendalam. “Untuk menjadi penulis tidak perlu menunggu membaca teori-teori menulis puisi. Tulis saja apa yang ingin ditulis, tidak perlu menunggu belajar teori terlebih dahulu,” jelasnya.
Faidi juga mengingatkan agar penulis pemula tidak takut menghasilkan karya yang belum sempurna. “Jangan takut menulis puisi yang jelek. Semua penulis memulai dari tulisan yang sederhana, bahkan dari tulisan yang jelek. Yang penting adalah berani memulai,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia memberikan tips teknis dalam proses menulis, yaitu tidak menulis sambil mengedit. “Kalau menulis sambil mengedit, satu hari pun belum tentu bisa menghasilkan satu puisi. Saran saya, tulis dulu sampai selesai, setelah itu baru diedit,” katanya.
Dalam menjelaskan teknik pengungkapan makna dalam puisi, Faidi menambahkan, “Menulis puisi itu seringkali ‘bilangnya begini, maksudnya begitu’. Cara melakukannya ada pada penggunaan majas seperti yang dipelajari di kelas. Majas membantu kita menyampaikan makna secara lebih indah dan mendalam.”
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan diksi yang segar dan tidak klise. “Dalam menulis puisi, hindari menggunakan ungkapan atau benda-benda yang sudah terlalu sering dipakai. Usahakan memilih kata dan gambaran yang lebih segar agar puisi terasa hidup,” pesannya.
Menutup penyampaiannya, Faidi mengajak seluruh peserta untuk segera memulai menulis tanpa menunda-nunda. “Tulis sekarang, jangan menunggu lama. Ide itu tidak selalu datang dua kali, jadi ketika ide muncul, segera tuliskan,” pungkasnya.
(Lis)




