Dungkek, manasymut.sch.id – MA Nasy-atul Muta’allimin Candi, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep menggelar kegiatan keagamaan bertajuk Tadabur Ramadhan sebagai bagian dari pembinaan spiritual siswa selama bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada Ahad dan Senin, 8–9 Maret 2026, mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, bertempat di Aula MA Nasy-atul Muta’allimin.

Kegiatan tersebut diwajibkan bagi seluruh siswa MA Nasy-atul Muta’allimin. Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian karena materi yang disampaikan berkaitan langsung dengan praktik ibadah yang mereka jalani selama bulan Ramadhan, khususnya tentang puasa dan etika menjaga perilaku selama beribadah.

Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum MA Nasy-atul Muta’allimin, Ach. Kholish, M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan Tadabur Ramadhan merupakan program pembinaan yang dirancang untuk memperkuat pemahaman keagamaan siswa.

“Kegiatan Tadabur Ramadhan ini kami rancang dalam rangka penguatan pengetahuan dan keterampilan ibadah siswa,” ujarnya.

Pada hari pertama, Ahad 8 Maret 2026, kegiatan diisi oleh K. Fathor Rahman, M.Pd., guru pengampu mata pelajaran Fiqih di MA Nasy-atul Muta’allimin. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan secara rinci tentang Fiqih Puasa, mulai dari hal-hal yang membatalkan puasa hingga perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa.

Di hadapan para siswa, Fathor Rahman menegaskan bahwa puasa memiliki tujuan spiritual yang sangat penting bagi kehidupan seorang muslim.

“Tujuan puasa membentuk ketakwaan, melatih pengendalian diri, dan menumbuhkan kesabaran,” jelasnya.

Selain itu, ia juga memberikan contoh kasus yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari terkait hukum puasa. Salah satunya adalah tentang mencicipi makanan saat berpuasa.

“Memcicipi makanan itu tidak batal jika tidak ditelan tetapi hukumnya makruh kecuali juru masak,” terangnya.

Lebih lanjut, Fathor Rahman menekankan bahwa menjaga sikap dan ucapan selama berpuasa sangat penting agar pahala puasa tidak hilang. Ia menyoroti kebiasaan yang sering terjadi di era digital, terutama dalam penggunaan media sosial dan aplikasi percakapan.

“Menggunjing teman di grup WhatsApp atau menyebar aib orang lain di media sosial termasuk perbuatan yang dapat membatalkan pahala puasa,” tegasnya di hadapan para siswa.

Menurutnya, puasa tidak hanya menuntut seseorang untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari berbagai perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah tersebut. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu menjaga lisan, tulisan, serta perilaku mereka baik di dunia nyata maupun di dunia digital. (Lis)